Jumat, 02 Desember 2016

PENGUMUMAN KELULUSAN STAFF MUDA BEM KMFT UGM PERIODE 2017

BEM KMFT UGM




Kami ucapkan,
Selamat! Kepada para pejuang yang telah lolos kaderisasi BEM KMFT UGM.
Mari berjuang bersama untuk teknik yang lebih baik.

Kamis, 24 November 2016

Ingatlah

BEM KMFT UGM
Jika dilihat di zaman yang serba modern ini, banyak sekali orang yang lalai dalam beragama.. Anehnya, kadang tindakan lalai tersebut dilakukan dengan sengaja. Entah itu menunda atau memang sengaja melakukan

Kata “agama” diambil dari ‘a’ yang berarti tidak atau bukan dan ‘gama’ yang berarti kacau. Jadi secara etimologi agama berarti “tidak kacau.” Dapat juga diartikan kata “agama” berarti tidak ada kerusakan. Hal tersebut berarti diharapkan dengan adanya agama, hidup tidak akan berada dalam kerusakan dan kekacauan. Sementara itu, menurut KBBI agama memiliki definisi sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Di era modern ini banyak sekali urusan-urusan agama yang tertunda. Hal-hal yang seperti itu dilakukan dengan sengaja. Prioritas-prioritas dunia lebih dipentingkan, dan urusan lain terutama agama adalah nomor sekian. Setidaknya, begitulah sedikit gambaran kehidupan zaman sekarang.

Agama yang seharusnya menjadi penuntun moral, justru ditinggalkan. Akibatnya moral manusia-manusia zaman sekaranglah yang menjadi penyebab berbagai permasalahan. Agama yang seharunsya menjadi penyeimbang kehidupan, bahkan keberadaanya sekarang menjadi dipertanyakan.

Padahal pemahaman tentang dosa dan neraka telah diajarkan, bahkan ada pada kurikulum pendidikan. Namun, seringnya beberapa orang melakukan dosa dengan sengaja meskipun sadar dan tahu kalau itu adalah dosa. Ketika diingatkan oleh orang lain, parahnya terkadang orang itu kesal dan tak jarag menjadi marah. Ketika diingatkan tentang hukuman di neraka, malah acuh tak acuh dalam menanggapinya.

Lantas, apa yang bisa diharapkan? Jika manusia sudah tak acuh dengan penciptanya? Pun jika agama sebagai penata kehidupan tak lagi dipedulikan? Maka, setidaknya saling mengingatkan adalah sebuah kewajiban. Mengingatkan bahwa dunia dengan segala kefanaannya tetap hanya akan menjadi tempat persinggahan sementara.
(Garin PH/ Defi N H)


Kementerian Media dan Propaganda

Sabtu, 19 November 2016

Jangan Kasih Panggung

BEM KMFT UGM
Media akhir-akhir ini memegang peran penting dalam bergulirnya opini di negara ini. Berbagai isu yang mengalir dari Sabang sampai Merauke disampaikan secara terus menerus. Tidak jarang para jurnalis kurang tidur karena mengejar berita. Hal ini dapat pula menjadi indikasi betapa krusialnya peran sebuah berita yang diolah media.

Seperti halnya akhir-akhir ini, berita tentang seorang Gubernur DKI Jakarta  Basuki Tjahja Purnama yang diberitakan melakukan penistaan agama. Berita yang simpang-siur mulai dari media cetak sampai media online ini memakan banyak sekali perhatian publik. Mengalahkan berbagai berita-berita penting lainnya. Bahkan, kerap disebut sebagai suatu bentuk pengalihan isu.

Namun yang mengherankan, meskipun isi berita bisa jadi sama, kemasan perspektif atau sudut pandang yang dipakai oleh media-media yang memberitakannya bisa jadi berbeda. Ada yang mengambil dari sudut pandang Ahok sebagai pelaku, ada yang memandang dari sudut pandang ulama agama, dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja menimbulkan kesan yang berbeda dan menimbulkan penerimaan yang berbeda pula di masyarakat. Menyadari hal-hal tersebut, para penguasa yang sadar akan pentingnya media, berlomba-lomba “menduduki” media atau bahkan membuat media mereka sendiri. Hal inilah yang kerap kali menimbulkan berita-berita yang subjektif dan tidak netral bahkan cenderung berusaha menyetir opini.

Seperti beberapa waktu lalu, terdapat berita teror bom di sebuah gereja di Samarinda. Bom tersebut mengakibatkan empat balita luka-luka, dan satu meninggal dunia. Pelaku diduga menggunakan identitas suatu agama sebagai justifikasi tindakannya. Peristiwa ini merupakan peristiwa yang menggemparkan. Suatu peristiwa teror yang menyangkut kemanusiaan. Akan tetapi, banyak yang menyayangkan bahwa tidak banyak media yang mau memberitakannya. Malah sibuk berpolemik mengenai saling nista-menista. Padahal, apabila mau melihat lebih jauh sebenarnya teror itu tidak dimulai saat bom meledak atau saat mayat-mayat bergelimpangan. Teror telah dimulai jauh sebelum itu, bahkan telah berawal dari pupuk-pupuk kebencian yang disemai oleh kepala-kepala panas yang tidak mau berpikir holistik. Pun barangkali, pemikiran tersebut salah satunya dipengaruhi oleh media.

Setiap berita memang memiliki hierarki. Ada yang lebih tinggi, ada pula yang lebih rendah. Ada muatan berita yang skalanya lokal, ada pula yang bersifat nasional. Pertimbangan-pertimbangan tersebutlah yang kemudian menaik-turunkan posisi suatu berita di media.

Memang, keberpihakan adalah suatu keniscayaan. Tidak ada satupun yang netral di dunia ini. Pada akhirnya, solusinya adalah jangan memberi panggung untuk suatu berita hanya untuk memenuhi hasrat konsumtif pembaca. Sebab, sekali lagi, media bukanlah alat melainkan ia adalah pemangku realitas yang memiliki kuasa. Apalagi dengan segala kemampuannya dalam mengonstruksi suatu realita, maka sebaiknya media dapat berlaku bijak dan adil dalam melakukan pemberitaannya.

(Novita Aini Putri / Defi N H)

Kementerian Media dan Propaganda

Jumat, 18 November 2016

Jangan Kalah Pintar

BEM KMFT UGM
Apa yang dirasakan seseorang ketika jauh dari handphone-nya? Mungkin hambar, sepi, bosan, dan ungkapan – ungkapan lain yang mengarah kepada keresahan. Di era modern yang memungkinkan terjadinya aliran informasi dengan sangat cepat, hal tersebut dianggap wajar karena dengan satu perangkat ponsel pintar, banyak tugas bisa diselesaikan. Namun, adakah yang sadar bahwa sebagian besar waktu seseorang terbuang hanya karena interaksinya dengan ponsel pintar. Bukan berarti perangkat ini mengantarkan kepada kebinasaan, akan tetapi eksistensinya yang semakin luas menuntut orang untuk pintar dalam menggunakannya.

Menurut penelitian lembaga survei di Amerika Serikat, Indonesia menduduki peringkat paling atas dalam penggunaan smartphone dengan rata – rata pemakaian 181 menit per hari. Diikuti oleh Filipina di peringkat kedua dengan rata – rata pemakaian 174 menit per hari. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap perangkat ini sangat tinggi. Lalu dampak yang paling dapat dirasakan dari data tersebut adalah informasi yang mengalir tanpa dapat dibendung, terlepas dari baik buruknya informasi tersebut.

Tidak mungkin untuk menutup diri dari pengaruh ponsel pintar. Bukan pula untuk membuka selebar – lebarnya tanpa perlu disaring. Asalkan digunakan dengan bijak, akan ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari ponsel pintar tersebut. Misalnya, komunikasi antar daerah yang jauh bisa lebih mudah dengan adanya ponsel pintar. Pun jika rindu akan seseorang hanya tinggal klik, maka dapat terobati dengan video call.
Penggunaan yang berlebihan pada perangkat yang memudahkan pekerjaan adalah suatu niscaya, karena tidak semua orang menyikapi kemudahan ini dengan pintar. Bercanda dengan yang dirindukan membuat waktu terbuang. Kabar burung tersebar begitu mudahnya karena perangkat ini. Komentar – komentar dengan kata kasar seringkali ditemukan di dunia maya.

 Ada kisah seorang ibu yang menjadi single parent sejak 2012 dan memiliki tiga anak. Barang apapun dijualnya ketika menjadi PKL di Ancol untuk menafkahi ketiga anaknya. Seringkali ibu ini kucing – kucingan” dengan Satpol PP. Namun, nasibnya berubah ketika ponsel pintar dimanfaatkannya untuk mencari nafkah. Ibu ini mendaftar sebagai pengemudi ojek online dan berpenghasilan maksimal 17 juta rupiah.

Ada kisah lain yang sangat kontras. Dikarenakan kurang pintar dalam menggunakan ponsel pintar, seorang mahasiswi salah satu universitas di Indonesia dilaporkan ke polisi dengan tuduhan menghina masyarakat dengan akun sosial media yang ia punya.

Sekarang kembali pada pribadi masing – masing, apakah kita cukup pintar untuk menggunakan ponsel ini atau ponsel yang lebih pintar.

(Hammad Syarif / Defi N H)

Kementerian Media dan Propaganda