Sabtu, 07 Januari 2017

Naikan Saja Semua, Gitu Aja Kok Repot

BEM KMFT UGM

Tahun baru, problematika tentu baru. Di awal tahun ini saja,pasti ada hal yang menjadi gunjingan publik. Seperti halnya perkara yang baru-baru ini membuana pasal hal harga-harga. Kenaikan harga bukanlah hal yang dapat dikatakan sepele, karena harga yang naik adalah harga barang yang mempengaruhi roda ekonomi di Indonesia. Pertanyaannya, sudahkah masyarakat sadar akan perubahan harga barang yang terjadi? Terlebih lagi, bagaimana rakyat menyikapi perubahan harga tersebut masih belum terkondisikan?

Mulai tanggal 5 Januari 2017,penetapan harga dasar BBM (Bahan Bakar Minyak) umum naik Rp 300. Meskipun kenaikan terjadi pada kategori umum yang terbilang juga dengan kategori non-subsidi, namun imbasnya juga dapat mempengaruhi harga pasar seperti halnya biaya transportasi angkutan barang maupun penumpang. Walau kenaikan harga dan biaya transportasi dapat dibilang relatif, akan tetapi jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya bahwa kenaikan harga BBM mengakibatkan harga kebutuhan pasar seperti sembako juga tarif angkutan umum menjadi melonjak. Hal ini berkaitan dengan setiap barang yang didistribusikan perlu transportasi barang dimana menambah biaya angkut barang tersebut. Bahkan, daerah yang sulit di jangkau ataupun daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) di Indonesia merasakan dampak yang sangat terasa, karena disana harga kebutuhan hidup terbilang mahal dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang mudah diakses.
 
Kenaikan harga BBM non-subsidi juga kurang terkoordinasi secara bijak. Di satu sisi melalui surat keputusan PT Pertamina yang dikeluarkan tanggal 4 Januari 2017 menyatakan untuk menaikan harga BBM non-subsidi di pasaran. Kenyataannya, hal ini dituding menyalahi peraturan perundang-undangan yang telah ada, dimana dalam Perpres No. 191 tahun 2014 menjelaskan bahwasanya harga eceran dan harga dasar BBM ditetapkan oleh Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Manusia).

Pun halnya dengan BBM, kini harga STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor), serta BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor) juga ikut meroket. Tak tanggung-tanggung, harga yang baru beredar mencapai 2 hingga 3 kali lipat dari harga sebelumnya. Pemberlakuan harga diawali pada tanggal 6 Januari 2017. Bukan bermaksud dengan tujuan lain, hal ini tentunya disiasati untuk menekan angka penggunaan dan kepemilikan kendaraan priadi agar masyarakat beralih ke transportasi publik. Selain itu, pendapatan yang diterima dari hasil biaya pembuatan STNK, TNKB, serta BPKB akan dimasukan ke dalam kas negara sebagai sumber PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) dalam APBN.

Kendati demikian, tentunya hal ini memberatkan beban masyarakat menengah ke bawah. Sikap yang terlalu terburu-buru menaikan harga STNK, TNKB, serta BPKB mengakibatkan besarnya animo masyarakat untuk mengurus surat-surat kendaraan sebelum tanggal 6 Januari 2017.Permintaan mengurus surat kendaraan mengakibatkan antrean panjang di tanggal 5 Januari 2017, dikarenakan sebelumnya masyarakat tidak mengetahui adanya sosialisasi akan kenaikan harga tersebut. Terlebih lagi,proses yang tentunya tidak berlangsung secara instan membuat kenaikan harga dipertanyakan akan fasilitas yang diberikan oleh pihak pelayanan surat berkendara. Pastinya mengecewakan jika kejadian ini terus berlangsung tanpa adanya tindak lanjut.

Lebih dari itu, kabar akan pencabutan subsidi listrik 900 VA semakin membuat keadaan tidak karuan. Sangat disayangkan program yang dituju bagi masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi listrik malah disalahgunakan bagiyang tidak berkepentingan. Pasalnya dari 22,9 juta pelanggan yang memakai, hanya sekitar 18 % lah yang teridentifikasi untuk berhak memakai dan menggunakan subsidi dari pemerintah. Lantas, hal ini membuat pemerintah menindaklanjuti dengan penghapusan subsidi secara bertahap hingga Mei 2017 nanti.

Seperti halnya kenaikan harga BBM dan surat kendaraan, pencabutan subsidi atas tindak lanjut pemerintah masih diperdebatkan akan urgensi dan kepentingan yang lebih lanjut.Mungkin, dengan menaikan ketiga harga tersebut pemerintah beranggapan bahwa demikianlah cara yang terbaik dalam mengatasi roda perekonomian yang ada saat ini. Gitu aja kok repot.


Dalam kasus ini, tidak serta merta rakyat dapat leluasa mencaci pemerintah yang kinerjanya tidak becus ataupun lalai akan hal yang diamanahkan di atas pundaknya. Terlebih lagi bagi mahasiswa yang kurang memahami akan akar permasalahan yang ada, sehingga mereka turun ke jalan dan melakukan aksi tanpa adanya kejelasan dari solusi yang akan ditawarkan olehnya. Karena setidaknya di dunia ini ada dua tipe manusia. Are you a solver or a complainer?


(Ahmad Rifai/Arina Nada)

Kementrian Media dan Propaganda


Sumber
http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/01/06/ojcmh2368-harga-bbm-bersubisidi-tak-naik
http://otomotif.kompas.com/read/2017/01/05/131429115/mulai.hari.ini.harga.bbm.pertamina.naik
http://liputan6.com/bisnis/read/2695077/sri-mulyani-ungkap-alasan-biaya-urus-stnk-naik-100-persen
https://tempo.co/read/news/2017/01/05/087832775/kenaikan-tarif-stnk-dinilai-memberatkan-masyarakat
https://tempo.co/read/news/2017/01/05/173832849/bem-tolak-keras-kenaikan-tarif-dasar-listrik-dan-stnk
http://bisnis.liputan6.com/read/2669275/41-juta-pelanggan-900-va-masih-nikmati-subsidi-listrik-di-2017

Sabtu, 31 Desember 2016

Pulang Kampung: Selamat Berbakti!

BEM KMFT UGM
Bagi mahasiswa libur semester adalah kado istimewa setelah berjuang dengan kesibukan bangku perkuliahan selama satu semester. Akhirnya dapat merasakan kembali hal-hal yang lama tersembunyi dalam diri, seperti hati yang senang, wajah yang ceria dan tubuh yang segar. Semua ini menjadi penghias hari-hari menjelang kepulangan ke kampung halaman. Hal yang tak kalah unik lainnya adalah tradisi di antara para perantau dengankawan meraka yang berasal dari Jogja, yaitu saling berucap kalimat-kalimat pengiring perpisahan. Seperti "Hati-hati", "Sampai jumpa lagi", hingga "Jangan lupa oleh-oleh saat kembali".

Tetapi terucap kalimat yang berbeda seorang kawan, yaitu “Selamat ber-birrul walidain!” Ucapan tersebut mungkin asing bagi beberapa orang. Birrul walidain bermakna ‘berbakti kepada kedua orangtua’. Mengapa kalimat ini diucapkan padahal para perantau hendak pulang kampung halaman untuk menikmati hari liburnya? 

***

“Singkat cerita, setelah hampir sepekan tiba di kampung halaman dan kembali menjadi salah satu penghuni rumah sederhana ini, barulah teringat tentang apa maksud dari kalimat "Selamat ber-birrul walidain" yang diucapkan seorang kawan. Pagi itu, ketika si pemalas ini terbangun dari tidur nya yang nyenyak di pagi hari.Sang Ibu sedang mencuci pakaian anak-anaknya, sambil sesekali berpindah ke dapur.

Saat itu, rasanya apalah gunanya keberadaan saya di sini jika tak ada bedanya dengan ketiadaan saya. Lebih lagi jika keberadaan kami semakin menambah beban sang Ibu yang mencucikan pakaian kami, piring bekas makan kami, sampai menyiapkan makan untuk penghuni "yang sempat hilang kembali pulang" ini. Duh, Gusti, ampunilah kami.

Selamat ber-birrul walidain. Kata-kata itu kembali terlintas didalam pikiran. Melihat sang Ibu yang repot mengurusi urusan rumah ini, masihkah tega membiarkannya begitu saja? Apalagi sebelum pulang kemarin, telah diucapkan oleh kawan kami "Selamat ber-birrul walidain", atau "Selamat berbakti kepada kedua orang tua".  

Ternyata inilah maksud dari "Selamat ber-birrul walidain". Ketika hendak berjumpa kembali dengan orangtua di rumah. Selama ini, di saat jauh dari mereka, kami tak lagi memiliki kesempatan tuk berbakti pada mereka. Maka, saat pulang kampunglah saat-saat bagi kami tuk berjumpa kembali dengan mereka, mencium tangan dan pipinya, dilanjutkan dengan merelakan saat-saat luang untuk berbakti meringankan beban mereka. “

***

"Selamat ber-birrul walidain". Dengan ucapan ini pula semoga menjadi pengingat, bahwa pulang kampung janganlah menjadi ‘seadanya’. Agar ia bermakna, dipenuhi dengan amal, hingga sekembalinya dari kampung halaman membawa restu dari orangtua. Untuk siap kembali berjuang di perantauan.

Kawan, semoga kepulangan kita ke kampung halaman menjadi ladang kita tuk berbakti kepada kedua orangtua.


Akhir kata, selamat berlibur. selamat pulang kampung, dan selamat ber-birrul walidain, selamat berbakti!


(Alian Fathira / Arina Nada, Andieka Almasid)

Jumat, 02 Desember 2016

PENGUMUMAN KELULUSAN STAFF MUDA BEM KMFT UGM PERIODE 2017

BEM KMFT UGM




Kami ucapkan,
Selamat! Kepada para pejuang yang telah lolos kaderisasi BEM KMFT UGM.
Mari berjuang bersama untuk teknik yang lebih baik.

Kamis, 24 November 2016

Ingatlah

BEM KMFT UGM
Jika dilihat di zaman yang serba modern ini, banyak sekali orang yang lalai dalam beragama.. Anehnya, kadang tindakan lalai tersebut dilakukan dengan sengaja. Entah itu menunda atau memang sengaja melakukan

Kata “agama” diambil dari ‘a’ yang berarti tidak atau bukan dan ‘gama’ yang berarti kacau. Jadi secara etimologi agama berarti “tidak kacau.” Dapat juga diartikan kata “agama” berarti tidak ada kerusakan. Hal tersebut berarti diharapkan dengan adanya agama, hidup tidak akan berada dalam kerusakan dan kekacauan. Sementara itu, menurut KBBI agama memiliki definisi sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Di era modern ini banyak sekali urusan-urusan agama yang tertunda. Hal-hal yang seperti itu dilakukan dengan sengaja. Prioritas-prioritas dunia lebih dipentingkan, dan urusan lain terutama agama adalah nomor sekian. Setidaknya, begitulah sedikit gambaran kehidupan zaman sekarang.

Agama yang seharusnya menjadi penuntun moral, justru ditinggalkan. Akibatnya moral manusia-manusia zaman sekaranglah yang menjadi penyebab berbagai permasalahan. Agama yang seharunsya menjadi penyeimbang kehidupan, bahkan keberadaanya sekarang menjadi dipertanyakan.

Padahal pemahaman tentang dosa dan neraka telah diajarkan, bahkan ada pada kurikulum pendidikan. Namun, seringnya beberapa orang melakukan dosa dengan sengaja meskipun sadar dan tahu kalau itu adalah dosa. Ketika diingatkan oleh orang lain, parahnya terkadang orang itu kesal dan tak jarag menjadi marah. Ketika diingatkan tentang hukuman di neraka, malah acuh tak acuh dalam menanggapinya.

Lantas, apa yang bisa diharapkan? Jika manusia sudah tak acuh dengan penciptanya? Pun jika agama sebagai penata kehidupan tak lagi dipedulikan? Maka, setidaknya saling mengingatkan adalah sebuah kewajiban. Mengingatkan bahwa dunia dengan segala kefanaannya tetap hanya akan menjadi tempat persinggahan sementara.
(Garin PH/ Defi N H)


Kementerian Media dan Propaganda