Senin, 29 Agustus 2016

Pengumuman Skulkad 2016 (Tugas, Kelompok, Surat Izin)

BEM KMFT UGM
Selamat kepada para SKULKADERS 2016 yang telah mengikuti Studium Generale. Berikut kami lampirkan daftar tugas dan kelompok yang dapat diakses melalui:





Kami ingatkan kembali bagi peserta yang berhalangan untuk menghadiri rangkaian kegiatan Studium Generale maka wajib memberikan surat izin sesuai dengan format yang telah disediakan. Surat selambat-lambatnya dikumpulkan pada hari Rabu, 31 Agustus 2016 pukul 17.00 di Sekretariatan KMFT.


Demikianlah yang dapat kami infokan atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Informasi dalam Aliran Sampah

BEM KMFT UGM
“Karena kemerdekaan di zaman modern tidak lagi diperjuangan dengan senjata, namun dengan kecerdasan dan kerja nyata.”

Masih terasa eforia peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 71. Upacara bendera dan berbagai lomba dilaksanakan dengan semarak. Bendera, umbul-umbul, dan spanduk masih banyak terpasang di berbagai tempat. Ya, diharapkan kemeriahan-kemeriahan tersebut tidak hanya sekedar acara seremonial belaka tanpa adanya aksi konkret.  Aksi konkret dari masing-masing individu bagi Indonesia yang menurut sebagian orang belum “benar-benar merdeka.”

Masih ingatkah dengan pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dulu seringkali dihafalkan saat masih di bangku sekolah? Tertuang dalam alinea ke 4 salah satu tujuan Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara (baca=pemerintah) bertanggung jawab terhadap pendidikan segenap rakyat Indonesia. Ya, pemerintah yang bertanggung jawab. Namun, pernahkah terpikirkan bahwa masyarakat biasa, termasuk mahasiswa, sebenarnya juga bertanggung jawab terhadap pendidikan benih-benih bangsa ini?

Tidak berbicara tentang pendidikan formal, tidak pula tentang pencerdasan di dalam ruang kelas.  Berbicara tentang hal yang kasat mata, tetapi sangat dekat dengan diri hampir semua pemuda Indonesia. Apa yang sekarang sedang berkembang pesat saat ini? Ya, dunia Teknologi Informasi (TI). Internet, gadget, dan media sosial merupakan elemen TI yang saat ini paling dekat dengan para generasi muda.

Lalu, apa hubungan antara mencerdaskan bangsa dengan internet, gadget, dan media sosial tersebut? Tidak bisa dipungkiri internet menjadi sumber utama informasi. Media informasi lawas berbasis non internet yang biasa kita nikmati sebelumnya seperti, televisi, buku, atau dari sekedar obrolan, kini mulai generasi muda tinggalkan. Kemudahan mengirim dan mendapatkan informasi menjadi alasan digandrunginya media informasi berbasis dunia maya ini.

Namun sayang seribu sayang, kemudahan pertukaran arus informasi yang sejatinya berfungsi sebagai sarana pencerdasan masyarakat, justru melenceng menjadi sebuah sarana pembodohan masal. Saat ini, para pengakses internet pasti tidak asing dengan broadcast-broadcast spektakuler yang membengkokan logika, atau berita mengejutkan nan heboh dari suatu kejadian. Hal-hal tersebut berseliweran di layar gawai (gadget) kita. Belum lagi aksi dari para keyboard warior, para penyebar kebencian, fitnah dan kebohongan yang makin meramaikan lini masa social media.

Fenomena di atas menjadikan fungsi kemudahan mengakses informasi menyimpang dari tujuan awalnya. Dari yang bertujuan sebagai sarana mempermudah bertukar informasi untuk pencerdasan umum, menjadi sarana memanen kesesatan dan kebencian publik. Di titik ini lah, kontribusi pemuda atau mahasiswa dibutuhkan. Tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga bagi diri sendiri. Dimulai dengan menumbuhkan pola pikir kritis dan rasa bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas dunia maya yang sekarang dinikmati.

Puluhan informasi masuk ke dalam pikiran orang – orang setiap harinya. Apakah semua itu diterima mentah-mentah? Tentu tidak. Oleh karena itu, selalu pastikan validitas suatu informasi yang didapatkan, sehingga tidak ikut dalam arus kesesatan. Bisa dimulai dari diri sendiri, sederhana saja dengan selalu gunakan logika dalam memastikan suatu informasi. Jika perlu cek kembali keabsahannya dengan bertanya ke berbagai sumber valid yang sebenarnya tidak sulit untuk diakses. Selanjutnya, dengan tidak ikut-ikutan menyebarkan hal-hal yang meragukan atau belum tentu benar, karena menyebarkan ketidakbenaran sama saja menyebarkan kebodohan.

Mulai membentengi diri dengan selalu menyaring segala informasi yang diterima, setidaknya ini merupakan usaha mencerdaskan diri sendiri. Pun lebih baik jika sekaligus mampu membantu mencerahkannya orang lain agar tidak mengikuti arus yang salah. Dapat dikatakan hal tersebut sebagai salah satu cara untuk turut andil dalam mencerdaskan masyarakat seperti yang telah diamanahkan pada pembukaan UUD NKRI tahun 1945.

Diakui atau tidak, kemerdekaan dalam berpendapat tengah dinikmati saat ini. Keadaan sekarang jauh 
lebih baik dari keadaan pada masa sebelum reformasi. Semua orang bebas mengekspresikan opininya di muka umum, tidak terkecuali di dunia maya. Kebebasan ini memang sejatinya menjadi hak bagi setiap manusia, tetapi yang sudah seharusnya diketahui adalah hak selalu diikuti oleh kewajiban atau tanggung jawab.

Segala hal yang tiap individu lontarkan di dunia maya harus bisa dipertanggungjawabkan. Kebencian, fitnah, dan kebohongan sangat mudah ditemukan di dunia maya. Semua orang bisa menjadi anonim, tidak terlacak, tidak ada yang tahu identitas para pemakainya. Memang banyak fitur yang dibuat untuk menyelesaikan permasalahan ini. Namun, kenyataannya selalu saja ada orang-orang yang hanya bisa “melempar batu sembunyi tangan.”

Oleh karena itu, sebagai pengguna yang cerdas sudah seharusnya mampu berpikir dua kali sebelum mengambil sikap atas informasi yang didapat. Tidak hanya berlaku di dunia maya, tetapi dimanapun. Secara tidak langsung, hal tersebut merupakan langkah kecil dalam menjalankan tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bertanah air. Pun akan menjadi langkah konkret dan aksi nyata yang dilakukan guna merealisasikan semangat kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu bangsa ini.

(Andieka Almasid / Defi N H)\


Kementerian Media dan Propaganda

Jumat, 26 Agustus 2016

Pengumuman Skulkad 2016 (Seleksi Berkas)

BEM KMFT UGM


Selamat kepada para peserta SKULKAD 2016 yang telah melewati tahap seleksi berkas. Daftar nama peserta SKULKAD 2016 dapat diakses di : http://ugm.id/daftarpesertaskulkad2016

Untuk nama yang telah lolos diwajibkan mengikuti Studium Generale yang diadakan pada hari Minggu, 28 Agustus 2016 pukul 07.30 WIB di Selasar Barat. Peserta diwajibkan untuk mengenakan dresscode sebagai berikut:

Laki-laki:
1. Baju batik
2. Celana bewarna gelap
3. Memakai sepatu

Perempuan:
1. Baju batik
2. Memakai rok bewarna gelap, tidak ketat dan menggunakan celana panjang semata kaki di dalamnya.
3. Memakai sepatu

Bagi yang tidak dapat menghadiri Studium Generale dapat melakukan perizinan dengan mekanisme sebagai berikut :

Mekanisme Perizinan SG
Bagi peserta yang berhalangan untuk menghadiri rangkaian kegiatan Stadium General aka wajib memberikan surat izin sesuai dengan format yang telah disediakan.Surat dapat diunduh di http://ugm.id/izinskulkad2016 dan selambat-lambatnya dikumpulkan pada hari Rabu, 31 Agustus 2016 pukul 17.00 di Sekretariat KMFT. Selain itu harus mengerjakan tugas tambahan yang akan diinfokan setelah SG.

Untuk pengumuman kelompok dan mentor akan disampaikan saat Studium General.


Apabila ada hal yang kurang jelas bisa menghubungi CP : Safitri (id line : safitriftr) dan Rahmat Doni (id line : rahmatdoni123)

Selasa, 23 Agustus 2016

Gerakan Teknik Mengabdi yang Selalu di Hati

BEM KMFT UGM


Oleh Yohanes Susanto




Dulu, program kerja ini sangat menarik perhatian saya ketika pertama kali mencari informasi seluk-beluk program kerja BEM KMFT UGM. Awalnya, saya kira Gerakan Teknik Mengabdi (GTM) adalah kegiatan yang mengajarkan berbagai pelajaran pada anak-anak usia sekolah dasar. Namun, saya salah; GTM ternyata melebihi dari apa yang saya bayangkan, GTM bertujuan menanamkan pendidikan karakter melalui beragam permainan dan kegiatan asyik lainnya. Keistimewaan GTM ini akhirnya membuat saya mendaftarkan diri untuk terlibat di dalamnya.

Syukurlah, saya tidak salah langkah. Selama berinteraksi dalam GTM, saya bertemu dengan panitia dan pengabdi yang saya rasa selalu tulus dan ikhlas memberikan segala potensi demi tertanamnya nilai pendidikan dalam diri anak-anak di SD Kembangjitengan 2, Sleman, Yogyakarta. Panitia dan pengabdi dengan niat menyisihkan sebagian waktunya untuk “merancang” cara yang unik dan asyik supaya anak-anak perlahan dan pasti mengerti serta  melakukan nilai yang telah diberi
Asal program studi yang mungkin berbeda, bahkan “tidak nyambung” dengan pendidikan anak juga tidak menghalangi niat panitia dan pengabdi untuk berbagi. Kekurangan ini diakali dengan menghadirkan pakar pendidikan anak, Pak Duma, di antara kami. Beliau rela membagi pengalaman berinteraksi dengan anak-anak. Selain itu, Pak Duma juga memberikan “ilmu” tentang pendidikan karakter untuk anak-anak kepada orang tua dan guru di SD Kembangjitengan 2. Salut empat jempol bagi panitia dan pengabdi GTM kemarin.
 Anak-anak, dari kelas 1-6, pun mengajarkan saya banyak hal. Latar belakang mereka yang berbeda-beda tidak membatasi pertemanan mereka. Ada pula beberapa anak yang benar-benar menohok hati saya secara langsung. Dari cerita mereka, sepulang sekolah mereka tidak langsung bermalas-malasan atau sekadar bermain bersama teman, beberapa dari mereka ada yang membantu orang tuanya beternak maupun bertani. Namun, mereka tetap bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dengan baik dan melanjutkan belajar. Sungguh pelajaran yang sangat berharga
Keceriaan mereka di tengah berbagai kondisi masing-masing juga mengajarkan saya untuk selalu bersyukur ketika beberapa hal dalam hidup tidak berjalan sesuai harapan. Lucu memang. Niatnya ingin berbagi, tapi tetap saja malah saya yang banyak diberi.
Akhir kata, terima kasih untuk GTM Season 5 di semester dua yang lalu. Saya benar-benar bersyukur mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari panitia dan pengabdi yang senantiasa tulus berbagi.
GTM? Mengabdi Sepenuh Hati. GTM? Selalu di Hati.