Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Minggu, 14 Desember 2014

Ada Apa dengan Teknik?

~Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “hukum” merupakan peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah. Hukum juga dapat dikatakan sebagai sebuah undang-undang untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat. Dan ketika ada sebuah peristiwa yang telah melanggar hukum, maka sebagai warga yang taat hukum pastinya kita akan membenarkan dan meluruskan hukum tersebut, karena memang di sinilah fungsi hukum sebagai pembenar dan penegak apabila terjadi suatu kesalahan.~

Minggu, 23 November 2014

 (KPFT, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta)

Sore itu (23/11) bertempat di selasar barat KPFT Fakultas Teknik terlihat sekumpulan orang-orang yang membentuk satu barisan melingkar, saling berdialog dan mengungkapkan pendapat masing-masing. Sebuah dialog terbuka yang diadakan untuk membahas polemik yang terjadi pada pemilihan umum teknik. Meski forum itu terlihat santai dan tidak formal namun wajah-wajah mereka terlihat begitu serius dan mungkin agak sedikit terlihat emosi. Diantara mereka terlihat ada satu orang yang mengatur jalannya pembicaraan, wajahnya terlihat begitu lelah namun beliau tetap menunjukkan keseriusan mengikuti forum. Beberapa diantaranya diam dan mendengarkan dengan seksama pada salah satu orang yang berbicara.

Kamis, 04 Desember 2014

[PRESS RELEASE] Kajian tentang UU KEINSINYURAN

Sumber : http://img.okeinfo.net/content/2014/02/25/373/946281/VCvh3NjOnz.jpg

Indonesia adalah negara berkembang yang terus berusaha melakukan pembangunan di berbagai sektor kehidupan khususnya pembangunan secara fisik dan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan bersaing dalam kemajuan global. Salah satu aktor yang berperan penting dalam pencapaian tujuan tersebut adalah Insinyur. Pemikiran-pemikiran para insinyur inilah yang menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai manfaat tinggi bagi masyarakat. Lantas siapakah sebenarnya para Insinyur itu? Banyak masyarakat awam yang mengkait-kaitkan Insinyur dengan Sarjana Teknik, benarkah demikian?
Menurut Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Insinyur adalah orang yang melakukan rekayasa teknik menggunakan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah atau manfaat atau pelestarian untuk kesejahteraan umat manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang No 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran,  Insinyur adalah seseorang yang mempunyai gelar profesi di bidang keinsinyuran. Insinyur selalu erat kaitannya dengan bidang keinsinyuran. Menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang tersebut, keinsinyuran adalah kegiatan teknik dengan menggunakan kepakaran dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan : keselamatan, kesehatan, kemaslahatan, serta kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.  Dari definisi tersebut dapat kita tarik poin utama bahwa gelar insinyur merupakan gelar profesiyang tidak didapatkan melalui bangku pendidikan, melainkan pengalaman kerja di lapangan. Berbeda halnya dengan Sarjana Teknik yang didapatkan melalui pendidikan formal di bangku perkuliahan.
Pertumbuhan Insinyur di Indonesia sendiri tergolong masih sangat kurang jika di bandingkan dengan negara-negara lain. Pada tahun 2010 pertumbuhan Insinyur di Indonesia hanya 37.000 Insinyur/tahun dengan populasi Insinyur pada tahun 2010 sebesar 603.650 orang. Dengan analisis statistik yang dilakukan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII), kebutuhan Insinyur di Indonesia pada tahun 2010-2015 diperkirakan sebesar 57.000 orang/ tahun namun hanya dapat terpenuhi 50.000 orang/ tahun. Yang lebih mengejutkan lagi, dari hasil tersebut diperkirakan kebutuhan Insinyur di Indonesia pada tahun 2015-2020 diperkirakan sebesar 90.500 orang/ tahun namun hanya dapat terpenuhi 75.000 orang / tahun. Adanya gap jumlah yang cukup besar yaitu lebih dari 15.000 akan menarik para Insinyur asing untuk bekerja di Indonesia. Apalagi dengan atmosfir perekonomian Indonesia yang semakin membaik disertai akan diberlakukannya Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015 yang lebih memudahkan Insinyur asing untuk bekerja di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah sudah siapkah Insinyur Indonesia menghadapi tantangan ini?
Sebelum kita bahas siapkah Insinyur Indonesia menghadapi tantangan, ada baiknya kita mengetahui apa arti AEC itu. AEC merupakan komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Pembentukan AEC dimaksudkan untuk membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan kompetitif dengan pembangunan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan perbedaan sosial ekonomi antarnegara di ASEAN. Sebagai akibat dari AEC adalah tidak diberlakukan lagi tarif maupun non tarif untuk barang yang masuk maupun keluar dan arus barang, jasa dan pekerja baik ke luar maupun ke dalam akan lebih mudah. Sehingga ini akan menjadi peluang sekaligus tantangan standar kualitas bagi seorang Insinyur Profesional yang dapat disetarakan dengan Insinyur asing. Hal ini jelas akan merugikan Insinyur Indonesia karena dengan tidak adanya standar yang jelas ini Insinyur Indonesia, terutama bagi Insinyur muda yang tentunya memiliki kompetensi yang mumpuni, mereka akan lebih sulit mendapat pengakuan di dunia kerja bila dibandingkan dengan pekerja asing yang memiliki standar yang jelas, sehingga peluang kerja pun akan sulit didapatkan. Oleh karena itu, sangat diperlukan peningkatan  standar  kompetensi sekaligus sebagai tersendiri bagi Insinyur Indonesia.
Dalam hal kualitas, Insinyur Indonesia masih belum mempunyai penyetaraan kualitas Insinyur Indonesia salah satunya dalam bentuk Undang-Undang No 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Undang-Undang ini baru disahkan oleh Pemerintah pada tanggal 25 Februari 2014 sebagai upaya menghadapi tantangan Insinyur asing tersebut. Undang-undang ini berfungsi untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi  Insinyur Indonesia sehingga mampu bersaing dengan Insinyur asing, menjamin Insinyur dalam melakukan praktek keinsinyuran dan mengatur beberapa hal mengenai Insinyur asing.
Adapun menurut pasal 3 Undang-undang No. 11 tahun 2014 Tentang Keinsinyuran, Pengaturan Keinsinyuran bertujuan:

a.       Memberikan landasan dan kepastian hukum bagi penyelenggaraan Keinsinyuran yang bertanggung jawab;
b.      Memberikan perlindungan kepada Pengguna Keinsinyuran dan Pemanfaat Keinsinyuran dari malapraktik Keinsinyuran melalui penjaminan kompetensi dan mutu kerja Insinyur;
c.       Memberikan arah pertumbuhan dan peningkatan profesionalisme Insinyur sebagai pelaku profesi yang andal dan berdaya saing tinggi, dengan hasil pekerjaan yang bermutu serta terjaminnya kemaslahatan masyarakat;
d.      Meletakkan Keinsinyuran Indonesia pada peran dalam pembangunan nasional melalui peningkatan nilai tambah kekayaan tanah air dengan menguasai dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kemandirian Indonesia; dan
e.       Menjamin terwujudnya penyelenggaraan Keinsinyuran Indonesia dengan tatakelola yang baik, beretika, bermartabat, dan memiliki jati diri kebangsaan.

Undang-undang tentang Keinsinyuran mengatur berbagai hal mengenai Insinyur Indonesia dan Insinyur asing. Dalam pasal 6 disebutkan bahwa standar keinsinyuran terdiri dari standar layanan insinyur, standar kompetensi Insinyur, dan standar program profesi Insinyur yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang dijelaskan dalam Undang-undang. Dalam pasal 7 dan 8 dijelaskan, untuk memperoleh gelar profesi Insinyur (Ir.) seseorang harus lulus dari program profesi Insinyur yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan PII, kementerian terkait dan kalangan industri. Syarat-syarat yang diberlakukan untuk memperoleh gelar Insinyur juga dijelaskan dalam Undang-undang tersebut.
            Seseorang yang telah memperoleh gelar Insinyur melalui Program Profesi Insinyur  tidak serta merta dapat menyelenggarakan praktik keinsinyuran. Insinyur harus memiliki Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran yang dikeluarkan oleh PII untuk melakukan praktik keinsinyuran. Dalam pasal 11 dijelaskan bahwa untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran, maka Insinyur harus memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur yang didapatkan dengan cara lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi. Setelah semua proses tersebut dilalui, barulah seorang Insinyur mendapatkan Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran dan boleh melakukan praktik keinsinyuran.
            Hal tersebut berlaku juga untuk Insinyur asing yang akan melakukan praktik keinsinyuran. Mereka juga harus mempunyai Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran yang dikeluarkan oleh PII berdasar surat tanda registrasi atau sertifikat kompetensi menurut hukum negaranya. Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran tersebut merupakan syarat untuk memperoleh surat izin kerja tenaga kerja asing bagi Insinyur asing. Hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk melindungi Insinyur Indonesia sehingga Insinyur asing yang datang ke Indonesia tidak serta merta dapat langsung bekerja. Namun juga harus melalui proses penyetaraan kompetensi yang sama dengan Insinyur Indonesia.
Tujuan pengaturan keinsinyuran yang telah dijelaskan di atas adalah untuk melindungi, baik konsumen maupun profesi sang insinyur itu sendiri dalam suatu kegiatan keinsinyuran, yang juga sebagai penyetara bagi insinyur Indonesia dengan insinyur asing yang berinvestasi di dalam negeri kita supaya tunduk pada aturan negara kita sendiri. Namun yang menjadi pertanyaan disini mengapa Undang-Undang Keinsinyuran baru disahkan 25 Februari 2014 yang waktunya sangat berdekatan dengan penyelenggaraan AEC, padahal standarisasi insinyur merupakan sesuatu yang esensial karena menyangkut produk rekayasa keinsinyuran agar menghasilkan produk insinyur yang berkualitas. Untuk permasalahan demikian, konon 10 tahun yang lalu, PII sudah mengajukan berkas-berkas materi ke DPR untuk membuat Undang-Undang Keinsinyuran. Namun, baru disahkan pada tahun 2014. Perdebatan yang  untuk membuat Undang-Undang Keinsinyuran antara anggota DPR dan pihak PII, menjadi salah satu penyebab mengapa Undang-Undang ini baru disahkan tahun ini. Selain itu, penyebab yang lain juga datang dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Pihak IAI tidak ingin arsitek dijadikan satu dengan keinsinyuran karena kedua hal itu berbeda. Perbedaan ini sudah ada di kancah dunia internasional.
Meskipun demikian, dengan adanya Standar Keinsinyuran dan persyaratan sedemikian rupa, diharapkan Insinyur Indonesia memiliki kualitas dan kompetensi yang dapat disetarakan dengan Insinyur asing. Sehingga Insinyur Indonesia dapat tetap bersaing dengan Insinyur asing.
Terlepas dari hal teknis yang diatur dalam Undang-undang tentang Keinsinyuran tersebut dan berbagai permasalahan dalam proses pembentukannya, sebagai seorang Insinyur yang tanggap terhadap tantangan Insinyur asing,  Insinyur Indonesia harus selalu mempersiapkan kemampuan dan meningkatkan kapabilitasnya sebagai seorang Insinyur. Undang-undang tentang Keinsinyuran adalah media legal dari Pemerintah untuk membantu meningkatkan kompetensi seorang Insinyur, namun tanpa kesadaran akan pentingnya kompetensi diri yang kita miliki sebagai seorang Insinyur akan sangat sulit bagi kita untuk bersaing dengan Insinyur asing.
Terlebih lagi, ini bukanlah hanya melulu soal persaingan untuk memperoleh pekerjaan. Bukanlah melulu soal siapa yang menguasai dunia kerja. Menjaga eksistensi peran Insinyur Indonesia sebagai aktor utama dalam pembangunan Indonesia adalah pembangunan yang sebenarnya. Pembangunan secara fisik dan ekonomi yang mandiri dan jauh dari belenggu asing.


Rabu, 03 Desember 2014

Gerakan Teknik Mengajar Minggu I - 23 November 2014

GTM! Anak Cerdas, Bangsa Jaya! Begitulah jargon dari GTM.
            Akhirnya Gerakan Teknik Mengajar mulai lagi, dan kali ini adalah Gerakan Teknik Mengajar yang ketiga kalinya. Apa itu GTM? GTM merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Masyarakat BEM KMFT UGM yang mewadahi segenap mahasiswa teknik untuk berbagi, baik berbagi waktu, tenaga, maupun pengetahuan kepada anak-anak bangsa Indonesia yang membutuhkan pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal, khususnya di daerah Yogyakarta.

Senin, 01 Desember 2014

Press Release Deklarasi Agen Hemat Energi TWSE

PRESS RELEASE
DEKLARASI AGEN HEMAT ENERGI
TOGETHER WE SAVE ENERGY
29 NOVEMBER 2014

Indonesia sekarang sudah jauh berbeda dengan Indonesia dahulu, hegemoni masyarakat akan kaya-nya alam Indonesia semakin lama semakin memudar, lagu yang diciptakan oleh band legendaris Indonesia Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu” sudah tidak cocok lagi didengar di telinga, memang pada awalnya Indonesia begitu beruntung dengan kekayaan yang diberikan oleh Tuhan, namun kondisi berubah secara drastis pada dewasa ini, hampir seluruh sektor alam Indonesia turun produksinya, khususnya pada sektor energi. Hal ini diakibatkan oleh begitu masifnya eksploitasi sumber daya alam hingga tidak banyak menyisakan sumber energi untuk anak cucu kita, hal ini diperparah dengan budaya masyarakat Indonesia yang bergitu konsumtif, tidak mampu melakukan penghematan, sehingga banyak energi terbuang. Menurut data statistik ESDM produksi minyak sekarang anjlok hingga menyentuh 289.899 barel per hari pada tahun 2011 dan terus menurun hingga sekarang. Padahal Saat ini kebutuhan akan BBM kita mencapai 1,3 juta  barel/hari, Oleh karena itu pemerintah harus mengimpor minyak dalam bentuk BBM sebesar 500.000 barel/hari (Ditjen Migas 2012). Hal ini jika dibiarkan terus terjadi maka akan membahayakan Negara, bagaimana tidak, pada kondisi saat ini 50% minyak yang dikonsumsi didalam negeri berasal dari impor, bahkan ketergantungan impor BBM kita sebesar 900 ribu barel/hari (500 ribu barel BBM, 400 ribu barel minyak mentah) dengan harga fluktuatif yang mengacu pada NYMEX (New York Mercantile Exchange). Fakta tersebut diperparah dengan cadangan minyak yang tidak begitu banyak tersisa lagi, maka bisa diramalkan tidak lama lagi Negara ini akan hancur karena krisis energi tersebut.

Minggu, 30 November 2014

“Bersihin Jogja” Demi Indonesia Peduli Lingkungan



Minggu, 30 November 2014, beberapa elemen komunitas seperti TWSE (Together We Save Energy), Outsider, BEM KMFT UGM, KOPHI jogja, Earth Hour Jogja, Seca ID, dan tokoh masyarakat Jogja lainnya bergabung dalam satu gerakan bersama yaitu “Bersihin Jogja”. Sebuah gerakan sosial bersama yang peduli terhadap lingkungan Jogjakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sekitar pukul 08.00 WIB, anggota dari setiap komunitas mulai berdatangan ke lokasi aksi. Walau ditemani dengan cuaca yang kurang mendukung, tidak menyurutkan semangat para komunitas tersebut untuk melakukan aksi yang dilakukan di sepanjang jalan Malioboro . Tepat pukul 08.30, Hinu Hardhanto selaku koordinator aksi, melakukan briefing aksi ini. Dengan membagi kelompok aksi menjadi 5 kelompok , salah seorang penggagas gerakan TWSE ini berujar,  “Setiap kelompok akan diberikan masing-masing dua buah kantong . Satu kantong untuk sampah biasa dan satu kantong untuk sampah botol plastik. Sampah botol plastik ini akan didaur ulang.”  Setelah briefing usai, aksi pun dimulai. 

Dengan mengusung jargon  “Salam Hemat Energi”, tiap anggota aksi bersiap untuk melakukan aksi . Melihat banyak anak muda membawa kantong palstik dan memunguti sampah, membuat para warga dan pengunjung sekitar Malioboro heran. Para anggota aksi, selain harus memungut sampah juga harus menjawab beberapa pertanyaan warga sekitar yang heran dengan  kegiatan yang tak biasanya ini.  Beberapa kali hujan gerimis masih mewarnai jalan Malioboro. Namun, cuaca yang kurang bersahabat ini tidak dihiraukan oleh anggota aksi “Bersihin Jogja” . Hujan yang terus mengguyur Jogjakarta dari malam sebelumnya juga berdampak pada sampah. Berat sampah menjadi semakin berat dan sulit diambil. 

Puluhan warga tak beranjak melihat aksi tersebut. Ada pula warga yang memberi tambahan kantong plastik ke salah satu kelompok aksi “Bersihin Jogja” ini. Tisu, botol air mineral, bungkus rokok, bahkan hingga bekas nasi bungkus jamak dilihat di sepanjang jalan Malioboro. Tanpa mengenal lelah dan ramainya Malioboro, para anggota aksi ini memungut sampah tersebut  satu persatu. Aksi tersebut terus berjalan sepanjang jalan malioboro dan berhenti di depan Istana Yogyakarta tepat pukul 10.30. Dari aksi di sepanjang jalan Malioboro tersebut terkumpul sekitar 10 kantong plastik yang penuh berisi sampah.

Acara berlanjut dengan briefing, orasi dari masing-masing kelompok elemen dan pengukuhan pahlawan energi. Mengawali briefing, Hinu Hardhanto berkata, ”Aksi ini ada positifnya dan negatifnya. Positifnya kita ikut membersihkan Malioboro. Negatifnya, dengan melihat sampah yang terkumpul menunjukkan masih kurangnya kesadaran kita dan teman-teman yang lain terhadap lingkungan.” Setelah briefing usai, Hinu Hardhanto memperkenalkan  pahlawan energi kita. Pak Mujio namanya. Seorang yang peduli terhadap lingkungan Malioboro dan mengajak seluruh pedagang di Malioboro untuk peduli lingkungan. 

Pak Mujio mengawali orasi dengan sambutannya. “Aksi ini cukup bagus. Begitulah Malioboro, walau tiap 2 jam dibersihkan namun karena  banyaknya pengunjung membuat sampah terus menumpuk. Namun, saya dan seluruh pedagang di sini tidak akan pernah berhenti untuk menjaga lingkungan Malioboro.“ kata Pak Mujio di dalam. sambutannya. Muhammad Rifki Ali, selaku perwakilan BEM KMFT, melanjutkan orasi dengan mengatakan bahwa kepedulian energi adalah tanggung jawab kita karena semakin lama energi akan semakin habis.” Salah seorang perwakilan outsider juga berujar, “Aksi ini jangan hanya berhenti disini, namun harus dilanjutkan saat di rumah dan di kampus masing-masing dengan cara yang sederhana yaitu membuang sampah pada tempatnya”. Orasi juga dilanjutkan oleh perwakilan  KOPHI jogja dan Earth Hour Jogja.  Wangsa Saputra, perwakilan dari komunitas Seca ID menutup orasi dengan memberikan penyuluhan mengenai lampu hemat energi. “Lampu ini akan kami berikan ke kampung-kampung yang masih menggunakan lampu pijar, Kami juga akan membantu instalansinya. Kami akan juga memberikan lampu hemat energi ini ke beberapa pedagang di Malioboro.” ujar Wangsa Saputra di dalam orasinya.

Orasi ditutup dengan pemberian plakat penganugerahan pahlawan energi  kepada Bapak Mujio. Dengan pemberian plakat tesebut, maka berakhirlah aksi “Bersihin Jogja” pada hari itu. Namun, aksi peduli lingkungan  tak akan pernah berakhir hingga kapanpun. Salam Hemat Energi.

Gilang Raka
Media Informasi Teknik

Selasa, 18 November 2014

[PRESS RELEASE] Permata Bernama “BBM”

Tiada roda-roda dijalanan itu berputar tanpa adanya bahan bakar yang terproses lalu mengepul keudara dan tiada bahan bakar itu ada selain minyak bumi yang telah diproses sebelumnya. Minyak bumi, sudah dijadikan jawaban utama atas kebutuhan energi Indonesia terutama untuk hal transportasi massa. Minyak bumi yang pada masyhurnya biasa disebut BBM ini, telah menjadi kawan dekat mulai dari rakyat biasa sampai penjabat negara. Bagaimana bukan kawan dekat? Fluktuasi mengenai kebijakan terlebih tentang harganya akan selalu menjadi keresahan dan perhatian bersama.

BBM adalah bahan bakar yang sangat populis bagi masyarakat kita. Namun, kepopulerannya bukan karena yang terbaik diantara yang lainnya melainkan karena hanya BBM lah satu-satunya bahan bakar yang tersedia untuk transportasi di Indonesia. Akibatnya ketergantungan terhadap BBM pun menjadi konsekuensi logis yang terjadi. 

Maka tak heran jika kenaikan harga BBM menjadi hal yang dianggap “bencana” bagi mereka, terutama rakyat kecil. Ini dikarenakan harga bahan pokok lain pun akan ikut naik seiring dengan kenaikan BBM. Padahal penghasilan mereka belum tentu ikut naik. Bahkan bisa lebih susah.

Ketergantungan masyarakat terhadap BBM menyebabkan ketidakseimbangan antara konsumsi masyarakat dengan produksi BBM nasional. Seperti yang dilansir dalam tribunnews.com pada selasa 17 Juni 2014 pukul 05:09 WIB menyatakan bahwa “Saat ini, rata-rata kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia mencapai 1,5 juta barrel per hari. Dari jumlah itu, kapasitas produksi BBM di dalam negeri hanya 650 ribu barrel per hari. Selebihnya, impor.

Indonesia berubah menjadi net importer BBM

Impor, pada akhirnya imporpun kita jadikan sebuah solusi atas kekurangan pasokan BBM kita. Namun, memang itulah satu-satunya jalur yang bisa kita tempuh. Produksi dalam negeri kita tidak bisa kita alihkan untuk konsumsi pribadi dalam negeri dikarenakan kualitas minyak mentah Indonesia lebih bagus dari pada minyak mentah internasional. Sehingga pemerintah Indonesia memiliki logika semacam ini, minyak mentah Indonesia mempunyai harga yang lebih mahal disbanding minyak dunia karena kualitasnya sangat disayangkan jiakalu hanya dimanfaatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan memang cenderung tidak mencukupi. Jadi, pemerintah lebih memilih untuk menjualnya sehingga mereka mendapatkan uang yang lebih untuk mengimpor minyak mentah dengan kualitas yang lebih rendah yang tentunya dengan harga yang lebih murah sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Cukup masuk akal logika tersebut dan dapat kita terima asalkan tidak menjual kedaulatan negara dan menyebabkan kekayaan alam kita terbuang sia-sia.

Cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia pun makin hari makin menipis.  Berdasarkan data yang kami dapatkan angka impor BBM pada tahun 2011 menigkat 5,2% dari sebelumnya 164 juta barel pada tahun 2010 menjadi 172 juta barel (darmawan dkk, 2012). Dari fakta impor yang ada Indonesia telah menjadi sebuah negara net importer BBM sejak lama. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik yang kami ambil dari laporan hasil kajian Supply Demand Energy yang dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral kementrian ESDM tahun 2012.


Dari grafik tersebut terlihat jelas bahwa terjadi sebuah selisih yang cukup besar antara impor yang dilakukan Indonesia dengan ekspornya. Bahkan pada data impor cenderung naik dari tahun ketahun meskipun pernah terjadi sebuah penurunan, sedangkan data ekspor cenderung menurun dari tahun ke tahun meskpun pernah mengalami peningkatan. Kompas.com menyatakan dalam websitenya pada Sabtu, 28 September 2013 pukul 09.24 WIB bahwa besaran nilai impor bahan bakar minyak mencapai 150 juta dollar per hari atau setara Rp 1,7 trilliun per hari. Kini Indonesia telah berubah status dari eksporter migas menjadi net importer migas.

Harga BBM Indonesia

Ada beberapa biaya dalam menghitung harga BBM, antara lain:

1. Biaya pencarian dan pengangkutan ke Kilang (A)

Minyak mentah (crude oil) tersebut di atas dialirkan atau diangkut ke Pabrik/Kilang (refinery) kemudian dimasak dan diolah menjadi terpisah yang salah satunya bensin (Premium, Pertamax dan lain-lain) yang oleh khalayak ramai disebut BBM (Bahan Bakar Minyak).

2. Biaya yang terkandung: Biaya pengolahan (B)

BBM yang sudah selesai pengolahannya di Kilang kemudian di sadurkan ke masyarakat dengan transportasi melalui Darat, Laut, Sungai. Kilang Minyak besar terdapat di Plaju/ S.Gerong, Dumai, Balikpapan, Cilacap dan Balongan.

3. Biaya yang terkandung: Biaya transportasi (C)

Karena harga jual BBM disetiap SPBU diseluruh Nusantara harus sama, maka biaya transportasi menjadi sangat variable antara satu daerah dengan daerah lainnya (komponen biayanya dibuat rata).

Jadi harga BBM = Biaya A + B + C = Biaya pokok (tidak ada profit, karena Perusahaan milik Negara (Pertamina).

BBM yang dihasilkan PT.Pertamina akan dijual dengan harga yang sama di SPBU Pertamina yang tersebar dari Sabang – Merauke dan dari Rote (pulau Roti) – Miangas (SULUT). Yaitu Biaya A + B + C = Rp 8.500,- (asumsi sekarang).
Namun jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, ternyata harga premium dan solar di Indonesia pun masih relatif murah.


Dana subsidi BBM Indonesia

Subsidi BBM menjadi salah satu beban APBN tertinggi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 saja, alokasi untuk subsidi BBM mencapai 27,5% dari APBN. Namun karena lemahnya mekanisme dalam perhitungan dan monitoring subsidi BBM, subsidi yang dialokasikan sebenarnya masih belum tepat jumlah dan tepat sasaran. Pola realisasi selalu lebih tinggi dari perhitungan anggaran yang sudah direncanakan di APBN.



Rp 305 triliun per tahun APBN dialokasikan untuk subsidi BBM. Bayangkan saja berapa banyak permasalahan bangsa lainnya yang bisa terselesaikan dengan merelokasi subsidi BBM tersebut. Bisa untuk pendidikan, pembangunan infrastruktur, kesehatan, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan lahan strategis lainnya yang justru lebih produktif dan menjadi investasi bangsa ke depannya.
Sebagai contoh, diperlukan dana Rp 38,4 triliun per tahun untuk menyalurkan BLT Rp 100 ribu/bulan ke setiap orang miskin di Indonesia (32 juta jiwa), saat ini hanya ada 5 dari 10 jenis vaksin yag diperlukan anak-anak Indonesia tersedia gratis dan perlu peningkatan anggaran kesehatan 100%= Rp 14 triliun, diperlukan hanya Rp 30 triliun/tahun untk memastikan 500.000 mahasiswa S1-S3 kuliah gratis dengan kualitas pendidikan terbaik, diperlukan Rp 192 triliun untuk meningkatkan roduktivitas 24 juta HA hutan di Indonesia dengan teknis SILIN, perlunya peningkatan 50% dana Hankam Rp 30,5 triliun untuk ALUTSISTA, serta tahun berikutnya masih ada Rp 305 triliun untuk dialokasikan di sector pembangunan strategi lain.
Ketika harga BBM dinaikkan Rp 3.000 saja, sudah membuat negara menghemat Rp 21 triliun. Defisit APBN Indonesia pun bisa diturunkan 2,21 %, bahkan menurut Menteri Keuangan, Chatib Basri di tahun depan bisa jauh lebih rendah sekira 1,3 persen-1,4 persen.

Gambar : Ketimpangan subsidi energi


Ketimpangan Subsidi di Indonesia

Indonesia memiliki banyak masalah lain selain hanya melulu masalah pemenuhan BBM dalam negeri. Ada permasalahan lain seperti kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan pengembangan infrastruktur. Besaran subsidi yang sangat besar ini ternyata sangat timpang ketika dibandingkan dengan anggaran yang digelontorkan pada sektor-sektor produktif. Oleh karena itu, apabila subsidi ini dialihkan kepada sektor-sektor yang lebih produktif dan yang memang lebih harus dipenuhi maka diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan. Mungkin pengalihan subsidi ini akan terkesan memberatkan rakyat kecil, tetapi ketika kita mau memandang lebih jauh kedepan, ini adalah resiko yang harus kita ambil terlebih dahulu diawal untuk menghindari masalah yang bisa muncul di kemudian hari ketika subsidi tidak dialikan segera.

Cadangan Minyak Indonesia

Cadangan minyak Indonesia sampai saat ini telah mulai menipis. Dari data yang kami dapatkan dari Kementrian ESDM menyatakan bahwa cadangan total yang Indonesia miliki sebesar 7.549,81 MMSTB dengan rincian cadangan terbukti sebesar 3.692,5 MMSTB dan cadangan potensial 3.875,31 MMSTB. Dalam beberapa media dilansir bahwa cadangan tersebut dapat bertahan hingga sekitar 12 tahun jika tidak ditemukan sumber minyak baru. Coba bayangkan andaikan konsumsi kita terhadap BBM semakin meningkat dan mempercepat cadangan tersebut habis, maka kita akan megimpor 100% BBM untuk kebutuhan dalam negeri kita. Hal tersebut dapat saja terjadi jika pemerintah tidak menekan angka konsumsi atau tidak segera melakukan konversi energi.

Kesimpulan

Pada akhirnya, berdasar pada pertimbangan-pertimbangan diatas kami BEM KMFT UGM menyatakan sikap menyetujui kebijakan kenaikan BBM sebesar Rp 2000 dengan beberapa catatan, yaitu

1. Kebijakan pengalihan subsidi ke sektor-sektor produktif harus benar-benar dilaksanakan.
2. Pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap BBM harus ditekan agar konsumsinya tidak semakin meningkat.
3. Penekanan jumlah pembelian kendaraan pribadi terutama mobil. Tinjau kembali kebijakan Low Cost Green Car.
4. Segera lakukan langkah-langkah perwujudan konversi BBM ke energi lain seperti Gas yang telah dijanjikan sebelumnya.
5. Pembatasan produksi kendaraan pribadi dengan dispensasi peningkatan kuantitas dan kualitas transportasi publik baik dari infrastruktur maupun SDM.
6. Peningkatan riset, infrastruktur, dan insentif untuk EBT seperti bioetanol ataupun nuklir sebagai solusi energi alternatif masa depan Indonesia.

http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/06/17/kementerian-esdm-butuh-rp17-triliun-per-hari-untuk-impor-bbm
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/09/28/0924154/Nilai.Impor.BBM.Capai.Rp.1.7.Triliun.per.Hari

Bibliography

darmawan dkk, A. (2012). Kajian Supply Demand Energy. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.



Rabu, 12 November 2014

Oretan Buku “Wajah Indonesia dari Sudut Pandang Mahasiswa” oleh Kastrat

Wajah kehidupan Bangsa Indonesia yang diliputi berbagai macam dinamika perubahan, konflik dan permasalahan membutuhkan suatu pemikiran-pemikiran dan solusi baru terutama dari generasi mudanya. Mahasiswa adalah penggerak itu, mahasiswa seharusnya adalah pendobrak itu. Ayo mulai gerakkan hati, pikiran dan tanganmu untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini dengan berbagai permasalahannya dan tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa kita di masa mendatang. Tuangkan pemikiran tersebut dalam tulisan bertemakan “Wajah Indonesia dari Sudut Pandang Mahasiswa” dengan sub tema meliputi :

Senin, 10 November 2014

Menebar Benih Semangat untuk Adik-adik Baru di Dusun Kokap

 
Hari Minggu, 2 November 2014, departemen Sosmas BEM KMFT UGM kembali mengadakan kegiatan Desa Binaan. Mereka membuka desa binaan baru di Dusun Kokap, Kulon Progo, Yogyakarta. Desa binaan ini terletak sejauh kurang lebih 50 kilometer dari kota Yogyakarta desa ini terletak jauh dipedalaman Kulon Progo, dengan suasana pedesaan yang amat kental dan erat ikatan kekeluargaannya. Sebagian besar rumah warga masih terbangun dari kayu, termasuk pendopo yang digunakan oleh Sosmas. Jalan yang ditempuh untuk menuju kesana pun berliku tajam, membuat orang yang tak biasa harus lebih hati hati dalam menyusurinya. Bagi yang tak biasa, jalan yang terjal bisa jadi bahaya. Oleh karena itu para pengendara motor pun lebih berhati hati. Jarak yang ditempuh untuk menuju ke Dusun Kokap kurang lebih 2 jam, menyeberangi kota Yogyakarta dan masuk ke wilayah Kulon Progo.

Jarak yang jauh tak melenyapkan semangat Sosmas untuk membina Desa Binaan yang baru. Kegiatan yang diadakan oleh Sosmas meliputi 2 hal, yaitu pembinaan warga terhadap pengelolaan sampah plastik dan bermain bersama anak desa Kokap. Penyuluhan terhadap pengelolaan sampah plastik bekerja sama dengan Tim Project B. Yaitu komunitas yang peduli terhadap efek dari sampah plastik yang merugikan lingkungan. Disana mereka memberikan penyuluhan kepada warga, terutama remaja dan ibu ibu dusun. Karena mereka adalah orang orang yang menggunakan plastik dalam kesehariannya. Mereka wajib tahu tentang karakter plastik yang bisa digunakan kembali dan plastik yang sekali pakai.

Hari Pahlawan : Antara Konsep dan Realita

Sumber foto: munsypedia.blogspot.com
Apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “pahlawan”? Perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme? Atau seorang yang berani mengangkat senjata melawan musuh? Atau seorang yang rela mati demi bangsa dan negara?

Pahlawan, sebuah kata indah yang jamak didengar bagi telinga kita. Entah sebagai personifikasi atau bukan, pahlawan menjadi predikat tertinggi yang akan disandang oleh insan yang terpilih. Kata “pahlawan” bukan sebuah kata yang terancam punah, namun sebuah kata abadi yang akan terus dikenang, termasuk oleh Indonesia. Sepuluh November seakan menjadi pengakuan kekekalan kata pahlawan di bangsa ini. Sebuah penghargaan tinggi dari bangsa ini terhadap para pahlawan. Walau pada sejarahnya hari pahlawan berasal dari perlawanan arek Suroboyo dengan mengangkat senjata untuk melawan manifesto politik sekutu, tak berarti bahwa kata pahlawan hanya memiliki makna sesempit itu. Kata pahlawan telah bertransformasi mengikuti era yang terus mengalami kedinamisan.  Menurut KBBI, pahlawan berarti  orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Makna tersebut tentu mengandung sebuah makna yang luas.

Rabu, 05 November 2014

Kunjungan LM Psikologi UGM ke BEM KMFT UGM (5/11)

Rabu, 5 November 2014, BEM KMFT mendapat kunjungan dari LM Psikologi UGM. Bertempat di KPFT 2.1, Lembaga Mahasiswa Psikologi datang dikomandoi langsung oleh ketua lembaga tersebut, Rakhman Satrio. Tepat pukul 16.15 WIB, acara dibuka oleh Karina (T. industri 14) dan Vicky (T. Fisika 14) dari departemen humas selaku MC acara kunjungan ini. Kemudian, Acara dilanjutkan dengan sambutan dari pihak LM Psikologi yang dibawakan oleh Rakhman Satrio selaku Ketua LM dan sambutan dari pihak BEM KMFT yang dibawakan oleh M. Rifki Ali selaku Ketua BEM.

Kegiatan lalu dilanjutkan dengan presentasi program kerja dari tiap-tiap departemen oleh BEM KMFT dan LM Psikologi. Rifki Ali menjelaskan struktur kabinet "Totalitas Terbarukan" dan program kerja
yang dijalankan oleh setiap departemen dan biro yang ada di BEM KMFT. Rakhman Satrio Ketua LM Psikologi juga turut menjelaskan secara ringkas kabinetnya. "Kabinet LM Psikologi ini sedikit lebih ramping dari kabinet BEM KMFT", kata Tio.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi per departemen. Pada diskusi antara departemen PSDMO LM Psikologi dengan biro PSDM BEM KMFT, terdapat rencana dari departemen PSDMO untuk diubah menjadi biro seperti di BEM KMFT.

"Bermanfaat sekali, karena banyak ilmu yang didapat dalam kunjungan ini", kesan Zahra, PSDMO LM Psikologi.

Sarah Cikal Annisa Utama selaku Sekretaris Jendral mengatakan bahwa kedatangan LM Psikologi bertujuan untuk bersilaturrahmi kepada BEM KMFT sekaligus sebagai sarana pembelajaran dari kedua pihak dengan harapa hubungan silaturrahmi yang makin erat dan terjadi sharing informasi. Acara ditutup dengan pembagian kenang-kenangan dari kedua belah pihak dan foto bersama.

Muhammad Fachrizal
Media Informasi Teknik