Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Minggu, 01 Maret 2015

Membangun Sinergisitas Melalui Lokakarya BEM, DEMA, LEM, dan LM se-UGM

Lokakarya lembaga tingkat Fakultas se-UGM merupakan acara yang diselenggarakan oleh BEM KM UGM dengan mengundang organisasi-organisasi eksekutif mahasiswa tingkat fakultas se-UGM. Tahun ini, acara berlangsung di Ruang G100 Fakultas Psikologi pada tanggal 28 Februari 2015.

Bertukar Pikiran dan Mengasah Ilmu Bersama BEM KM UGM

Jumat, 28 Februari 2015 pukul 15.30 WIB. Terlihat keramaian mahasiswa yang berdiskusi duduk melingkar di salah satu pendopo Tedjo Suminto, Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik UGM. Diskusi riuh yang kadang kala diselingi oleh senda gurau, terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Setelah diamati dari dekat, tampaklah ketua BEM KMFT, M. Hibatur Rahman berada di tengah-tengah mereka. Rupanya BEM KMFT sedang menerima kunjungan dari lembaga pergerakan tingkat Universitas, BEM KM UGM.

Rabu, 25 Februari 2015

Terpilihnya Ketua BEM KMFT UGM 2015

Selasa, 24 Februari 2015, menjadi salah satu hari bersejarah bagi kiprah pergerakan dan organisasi mahasiswa di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Pada hari itu, KPU FT UGM yang bertanggung jawab di dalam pemilihan maupun penetapan Ketua BEM KMFT UGM mengadakan sebuah sosialisasi Hasil Pemilu Teknik 2015. Sedikit pertanyaan muncul seketika saat pemilu tak pernah dilaksanakan, namun akan diadakan sosialisasi hasil pemilu. Saat jam menunjukkan pukul 15.30, terlihat kursi dan beberapa anggota KPU mulai mempersiapkan acara sosialisasi tersebut di KPFT selasar barat. Dan pukul 16.15, acara sosialisasi dimulai dengan dihadiri oleh sekitar 20 orang warga teknik yang ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

Rabu, 28 Januari 2015

[RELEASE] Kapolri : Inkonsistensi Nawa Cita

Memilih, hidup tiada lepas dari pilihan dan pemilihan. Mulai dari memilih suatu hal yang kecil sampai suatu hal besar. Mulai dari yang hanya akan berdampak kepada diri sendiri hingga orang lain atau bahkan sekumpulan manusia yang tidak sedikit jumlahnya. Memilih bisa menjadi suatu yang penting dan genting. Oleh karena itu, para pemilih tak jarang dibuat pusing.

Kita kembali disuguhkan oleh drama pemilihan oleh para petinggi negeri. Setelah waktu itu kita melihat drama pemilihian menteri, sekarang kita duduk manis melihat sandiwara pemilihan Kapolri. Siapa yang kuasa akan jabatan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ini sedang digodog oleh presiden kita Bapak Jokowi. Namun, proses pemilihan yang terjadi sarat akan intervensi. Meski “katanya presiden memiliki hak prerogratif tetapi suara- suara bising elit politik tedengar lirih mendayu masuk telinga kanan dan kiri.

Jumat, 02 Januari 2015

Gerakan Teknik Mengajar Season 3 – Minggu Terakhir

             Minggu, 14 Desember 2014 merupakan minggu terakhir Gerakan Teknik Mengajar Season 3 bertempat di 2 desa, yakni Desa Ngampon dan Desa Wunut. Dengan berkumpul di KPFt pada pukul 7 pagi, para pengajar diberikan briefing sebelum berangkat ke desa masing-masing. Setelah melakukan kegiatan mengajar di minggu-minggu sebelumnya, maka pada minggu ini pengajaran lebih di arahkan untuk mencapai cita-cita anak-anak desa di masa depan.
             Perjalanan yang ditempuh menuju Desa Ngampon selama sekitar 45 menit. Sesampai di sana para pengajar sudah ditunggu puluhan anak-anak yang antuasias dengan kegiatan hari ini. Kegiatan pertama yang dilakukan ialah ice breaking di mana para pengajar dan anak-anak membentuk suatu lingkaran besar dan bernyanyi bersama serta melakukan gerakan di tengah lapangan sekolah yang digunakan. Setelah sekitar 15 menit melakukan ice breaking, materi selanjutnya ialah tentang cita-cita yang dibawakan oleh Nabil Satria. Materi dibawakan di dalam mushola yang terletak di dalam sekolah dan materi ini berkaitan dengan kegiatan selanjutnya yang akan diadakan di dalam kelas.
             Setelah mendapatkan materi selama 30 menit, anak-anak dibagi per kelas dan memasuki ruang kelas masing-masing. Kegiatan yang dilkukan ialah menulis life plan dari apa yang telah didapat pada materi yang diberikan tadi. Anak-anak diminta untuk menuliskan apa yang menjadi cita-cita dan harapan mereka selamat beberapa tahun ke depan. Mereka menuliskan cita-cita dan harapan mereka di selembar kertas, tak lupa dengan gambar-gambar pendukung apa yang dituliskannya agar lebih menarik.
             Setelah menuliskan life plan, mereka menggulung kertas tersebut dan mengikatkan pita yang kemudian semua life plan akan di kumpul dan dimasukkan ke dalam Kapsul. Kegitan kemudian ditutup dengan rujakan dan pembagian alat tulis kepada anak-anak, serta foto bareng.
             Semoga akhir dari GTM Season 3 ini merupakan langkah baru sebagai awal gerakan-gerakan lainnya dari mahasiswa Teknik UGM. Karena begitu banyak bentuk kontribusi nyata bagi kita para pemuda, hanya saja tergantung pada niat dan tindakan dari pribadi masing-masing untuk memilih hal apakah yang menjadi minat dan pilihan kita dalam melakukan kontribusi maksimal terhadap tumbuh dan kembang Bangsa Indonesia. TEKNIK? JAYA!

Nabil Satria, PLT Ketua BEM KMFT UGM

Tanggal 27 Desember 2014 yang lalu, telah dilaksanakan kegiatan Kongres Akhir Tahun KMFT, dimana kongres ini membahas tentang AD ART baru yang telah disusun oleh Dewan Formatur dan Pelantikan PLT alias Ketua BEM sementara. Setelah sempat panas antara KM/HM, BEM, dan MPM kini telah ditemukan jalan tengahnya, yaitu dengan dibentuknya Dewan Formatur yang menyusun AD ART baru bagi KMFT yang dibahas dan disetujui oleh warga teknik dalam Kongres Akhir Tahun 2014. 

Minggu, 14 Desember 2014

Ada Apa dengan Teknik?

~Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “hukum” merupakan peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah. Hukum juga dapat dikatakan sebagai sebuah undang-undang untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat. Dan ketika ada sebuah peristiwa yang telah melanggar hukum, maka sebagai warga yang taat hukum pastinya kita akan membenarkan dan meluruskan hukum tersebut, karena memang di sinilah fungsi hukum sebagai pembenar dan penegak apabila terjadi suatu kesalahan.~

Minggu, 23 November 2014

 (KPFT, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta)

Sore itu (23/11) bertempat di selasar barat KPFT Fakultas Teknik terlihat sekumpulan orang-orang yang membentuk satu barisan melingkar, saling berdialog dan mengungkapkan pendapat masing-masing. Sebuah dialog terbuka yang diadakan untuk membahas polemik yang terjadi pada pemilihan umum teknik. Meski forum itu terlihat santai dan tidak formal namun wajah-wajah mereka terlihat begitu serius dan mungkin agak sedikit terlihat emosi. Diantara mereka terlihat ada satu orang yang mengatur jalannya pembicaraan, wajahnya terlihat begitu lelah namun beliau tetap menunjukkan keseriusan mengikuti forum. Beberapa diantaranya diam dan mendengarkan dengan seksama pada salah satu orang yang berbicara.

Kamis, 04 Desember 2014

[PRESS RELEASE] Kajian tentang UU KEINSINYURAN

Sumber : http://img.okeinfo.net/content/2014/02/25/373/946281/VCvh3NjOnz.jpg

Indonesia adalah negara berkembang yang terus berusaha melakukan pembangunan di berbagai sektor kehidupan khususnya pembangunan secara fisik dan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan bersaing dalam kemajuan global. Salah satu aktor yang berperan penting dalam pencapaian tujuan tersebut adalah Insinyur. Pemikiran-pemikiran para insinyur inilah yang menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai manfaat tinggi bagi masyarakat. Lantas siapakah sebenarnya para Insinyur itu? Banyak masyarakat awam yang mengkait-kaitkan Insinyur dengan Sarjana Teknik, benarkah demikian?
Menurut Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Insinyur adalah orang yang melakukan rekayasa teknik menggunakan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah atau manfaat atau pelestarian untuk kesejahteraan umat manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang No 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran,  Insinyur adalah seseorang yang mempunyai gelar profesi di bidang keinsinyuran. Insinyur selalu erat kaitannya dengan bidang keinsinyuran. Menurut Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang tersebut, keinsinyuran adalah kegiatan teknik dengan menggunakan kepakaran dan keahlian berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna secara berkelanjutan dengan memperhatikan : keselamatan, kesehatan, kemaslahatan, serta kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.  Dari definisi tersebut dapat kita tarik poin utama bahwa gelar insinyur merupakan gelar profesiyang tidak didapatkan melalui bangku pendidikan, melainkan pengalaman kerja di lapangan. Berbeda halnya dengan Sarjana Teknik yang didapatkan melalui pendidikan formal di bangku perkuliahan.
Pertumbuhan Insinyur di Indonesia sendiri tergolong masih sangat kurang jika di bandingkan dengan negara-negara lain. Pada tahun 2010 pertumbuhan Insinyur di Indonesia hanya 37.000 Insinyur/tahun dengan populasi Insinyur pada tahun 2010 sebesar 603.650 orang. Dengan analisis statistik yang dilakukan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII), kebutuhan Insinyur di Indonesia pada tahun 2010-2015 diperkirakan sebesar 57.000 orang/ tahun namun hanya dapat terpenuhi 50.000 orang/ tahun. Yang lebih mengejutkan lagi, dari hasil tersebut diperkirakan kebutuhan Insinyur di Indonesia pada tahun 2015-2020 diperkirakan sebesar 90.500 orang/ tahun namun hanya dapat terpenuhi 75.000 orang / tahun. Adanya gap jumlah yang cukup besar yaitu lebih dari 15.000 akan menarik para Insinyur asing untuk bekerja di Indonesia. Apalagi dengan atmosfir perekonomian Indonesia yang semakin membaik disertai akan diberlakukannya Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015 yang lebih memudahkan Insinyur asing untuk bekerja di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah sudah siapkah Insinyur Indonesia menghadapi tantangan ini?
Sebelum kita bahas siapkah Insinyur Indonesia menghadapi tantangan, ada baiknya kita mengetahui apa arti AEC itu. AEC merupakan komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Pembentukan AEC dimaksudkan untuk membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan kompetitif dengan pembangunan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan perbedaan sosial ekonomi antarnegara di ASEAN. Sebagai akibat dari AEC adalah tidak diberlakukan lagi tarif maupun non tarif untuk barang yang masuk maupun keluar dan arus barang, jasa dan pekerja baik ke luar maupun ke dalam akan lebih mudah. Sehingga ini akan menjadi peluang sekaligus tantangan standar kualitas bagi seorang Insinyur Profesional yang dapat disetarakan dengan Insinyur asing. Hal ini jelas akan merugikan Insinyur Indonesia karena dengan tidak adanya standar yang jelas ini Insinyur Indonesia, terutama bagi Insinyur muda yang tentunya memiliki kompetensi yang mumpuni, mereka akan lebih sulit mendapat pengakuan di dunia kerja bila dibandingkan dengan pekerja asing yang memiliki standar yang jelas, sehingga peluang kerja pun akan sulit didapatkan. Oleh karena itu, sangat diperlukan peningkatan  standar  kompetensi sekaligus sebagai tersendiri bagi Insinyur Indonesia.
Dalam hal kualitas, Insinyur Indonesia masih belum mempunyai penyetaraan kualitas Insinyur Indonesia salah satunya dalam bentuk Undang-Undang No 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Undang-Undang ini baru disahkan oleh Pemerintah pada tanggal 25 Februari 2014 sebagai upaya menghadapi tantangan Insinyur asing tersebut. Undang-undang ini berfungsi untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi  Insinyur Indonesia sehingga mampu bersaing dengan Insinyur asing, menjamin Insinyur dalam melakukan praktek keinsinyuran dan mengatur beberapa hal mengenai Insinyur asing.
Adapun menurut pasal 3 Undang-undang No. 11 tahun 2014 Tentang Keinsinyuran, Pengaturan Keinsinyuran bertujuan:

a.       Memberikan landasan dan kepastian hukum bagi penyelenggaraan Keinsinyuran yang bertanggung jawab;
b.      Memberikan perlindungan kepada Pengguna Keinsinyuran dan Pemanfaat Keinsinyuran dari malapraktik Keinsinyuran melalui penjaminan kompetensi dan mutu kerja Insinyur;
c.       Memberikan arah pertumbuhan dan peningkatan profesionalisme Insinyur sebagai pelaku profesi yang andal dan berdaya saing tinggi, dengan hasil pekerjaan yang bermutu serta terjaminnya kemaslahatan masyarakat;
d.      Meletakkan Keinsinyuran Indonesia pada peran dalam pembangunan nasional melalui peningkatan nilai tambah kekayaan tanah air dengan menguasai dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kemandirian Indonesia; dan
e.       Menjamin terwujudnya penyelenggaraan Keinsinyuran Indonesia dengan tatakelola yang baik, beretika, bermartabat, dan memiliki jati diri kebangsaan.

Undang-undang tentang Keinsinyuran mengatur berbagai hal mengenai Insinyur Indonesia dan Insinyur asing. Dalam pasal 6 disebutkan bahwa standar keinsinyuran terdiri dari standar layanan insinyur, standar kompetensi Insinyur, dan standar program profesi Insinyur yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang dijelaskan dalam Undang-undang. Dalam pasal 7 dan 8 dijelaskan, untuk memperoleh gelar profesi Insinyur (Ir.) seseorang harus lulus dari program profesi Insinyur yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan PII, kementerian terkait dan kalangan industri. Syarat-syarat yang diberlakukan untuk memperoleh gelar Insinyur juga dijelaskan dalam Undang-undang tersebut.
            Seseorang yang telah memperoleh gelar Insinyur melalui Program Profesi Insinyur  tidak serta merta dapat menyelenggarakan praktik keinsinyuran. Insinyur harus memiliki Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran yang dikeluarkan oleh PII untuk melakukan praktik keinsinyuran. Dalam pasal 11 dijelaskan bahwa untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran, maka Insinyur harus memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur yang didapatkan dengan cara lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi. Setelah semua proses tersebut dilalui, barulah seorang Insinyur mendapatkan Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran dan boleh melakukan praktik keinsinyuran.
            Hal tersebut berlaku juga untuk Insinyur asing yang akan melakukan praktik keinsinyuran. Mereka juga harus mempunyai Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran yang dikeluarkan oleh PII berdasar surat tanda registrasi atau sertifikat kompetensi menurut hukum negaranya. Surat Tanda Registrasi Keinsinyuran tersebut merupakan syarat untuk memperoleh surat izin kerja tenaga kerja asing bagi Insinyur asing. Hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk melindungi Insinyur Indonesia sehingga Insinyur asing yang datang ke Indonesia tidak serta merta dapat langsung bekerja. Namun juga harus melalui proses penyetaraan kompetensi yang sama dengan Insinyur Indonesia.
Tujuan pengaturan keinsinyuran yang telah dijelaskan di atas adalah untuk melindungi, baik konsumen maupun profesi sang insinyur itu sendiri dalam suatu kegiatan keinsinyuran, yang juga sebagai penyetara bagi insinyur Indonesia dengan insinyur asing yang berinvestasi di dalam negeri kita supaya tunduk pada aturan negara kita sendiri. Namun yang menjadi pertanyaan disini mengapa Undang-Undang Keinsinyuran baru disahkan 25 Februari 2014 yang waktunya sangat berdekatan dengan penyelenggaraan AEC, padahal standarisasi insinyur merupakan sesuatu yang esensial karena menyangkut produk rekayasa keinsinyuran agar menghasilkan produk insinyur yang berkualitas. Untuk permasalahan demikian, konon 10 tahun yang lalu, PII sudah mengajukan berkas-berkas materi ke DPR untuk membuat Undang-Undang Keinsinyuran. Namun, baru disahkan pada tahun 2014. Perdebatan yang  untuk membuat Undang-Undang Keinsinyuran antara anggota DPR dan pihak PII, menjadi salah satu penyebab mengapa Undang-Undang ini baru disahkan tahun ini. Selain itu, penyebab yang lain juga datang dari IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Pihak IAI tidak ingin arsitek dijadikan satu dengan keinsinyuran karena kedua hal itu berbeda. Perbedaan ini sudah ada di kancah dunia internasional.
Meskipun demikian, dengan adanya Standar Keinsinyuran dan persyaratan sedemikian rupa, diharapkan Insinyur Indonesia memiliki kualitas dan kompetensi yang dapat disetarakan dengan Insinyur asing. Sehingga Insinyur Indonesia dapat tetap bersaing dengan Insinyur asing.
Terlepas dari hal teknis yang diatur dalam Undang-undang tentang Keinsinyuran tersebut dan berbagai permasalahan dalam proses pembentukannya, sebagai seorang Insinyur yang tanggap terhadap tantangan Insinyur asing,  Insinyur Indonesia harus selalu mempersiapkan kemampuan dan meningkatkan kapabilitasnya sebagai seorang Insinyur. Undang-undang tentang Keinsinyuran adalah media legal dari Pemerintah untuk membantu meningkatkan kompetensi seorang Insinyur, namun tanpa kesadaran akan pentingnya kompetensi diri yang kita miliki sebagai seorang Insinyur akan sangat sulit bagi kita untuk bersaing dengan Insinyur asing.
Terlebih lagi, ini bukanlah hanya melulu soal persaingan untuk memperoleh pekerjaan. Bukanlah melulu soal siapa yang menguasai dunia kerja. Menjaga eksistensi peran Insinyur Indonesia sebagai aktor utama dalam pembangunan Indonesia adalah pembangunan yang sebenarnya. Pembangunan secara fisik dan ekonomi yang mandiri dan jauh dari belenggu asing.


Rabu, 03 Desember 2014

Gerakan Teknik Mengajar Minggu I - 23 November 2014

GTM! Anak Cerdas, Bangsa Jaya! Begitulah jargon dari GTM.
            Akhirnya Gerakan Teknik Mengajar mulai lagi, dan kali ini adalah Gerakan Teknik Mengajar yang ketiga kalinya. Apa itu GTM? GTM merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial Masyarakat BEM KMFT UGM yang mewadahi segenap mahasiswa teknik untuk berbagi, baik berbagi waktu, tenaga, maupun pengetahuan kepada anak-anak bangsa Indonesia yang membutuhkan pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal, khususnya di daerah Yogyakarta.

Senin, 01 Desember 2014

Press Release Deklarasi Agen Hemat Energi TWSE

PRESS RELEASE
DEKLARASI AGEN HEMAT ENERGI
TOGETHER WE SAVE ENERGY
29 NOVEMBER 2014

Indonesia sekarang sudah jauh berbeda dengan Indonesia dahulu, hegemoni masyarakat akan kaya-nya alam Indonesia semakin lama semakin memudar, lagu yang diciptakan oleh band legendaris Indonesia Koes Plus yang berjudul “Kolam Susu” sudah tidak cocok lagi didengar di telinga, memang pada awalnya Indonesia begitu beruntung dengan kekayaan yang diberikan oleh Tuhan, namun kondisi berubah secara drastis pada dewasa ini, hampir seluruh sektor alam Indonesia turun produksinya, khususnya pada sektor energi. Hal ini diakibatkan oleh begitu masifnya eksploitasi sumber daya alam hingga tidak banyak menyisakan sumber energi untuk anak cucu kita, hal ini diperparah dengan budaya masyarakat Indonesia yang bergitu konsumtif, tidak mampu melakukan penghematan, sehingga banyak energi terbuang. Menurut data statistik ESDM produksi minyak sekarang anjlok hingga menyentuh 289.899 barel per hari pada tahun 2011 dan terus menurun hingga sekarang. Padahal Saat ini kebutuhan akan BBM kita mencapai 1,3 juta  barel/hari, Oleh karena itu pemerintah harus mengimpor minyak dalam bentuk BBM sebesar 500.000 barel/hari (Ditjen Migas 2012). Hal ini jika dibiarkan terus terjadi maka akan membahayakan Negara, bagaimana tidak, pada kondisi saat ini 50% minyak yang dikonsumsi didalam negeri berasal dari impor, bahkan ketergantungan impor BBM kita sebesar 900 ribu barel/hari (500 ribu barel BBM, 400 ribu barel minyak mentah) dengan harga fluktuatif yang mengacu pada NYMEX (New York Mercantile Exchange). Fakta tersebut diperparah dengan cadangan minyak yang tidak begitu banyak tersisa lagi, maka bisa diramalkan tidak lama lagi Negara ini akan hancur karena krisis energi tersebut.